Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 September 2014

Malacca, I'm in Love!

Pukul 04.00, malam telah larut, lampu pun telah padam. Di malam minggu yg selalu-seperti-biasanya ini, gw cuma duduk di kamar, menghabiskan film, dan mengobrol panjang lebar dengan teman-teman. Yap, rutinitas seorang jomblo. Sebenarnya gw udah beberapa menit yg lalu mematikan lampu kamar, menutup jendela, dan memasang posisi cakep di bawah selimut buat tidur kece. Tapi seperti biasa, fikiran-fikiran berterbangan di kepala gw, dialog-dialog kesendirian mengusik hening gw. Kadang beberapa gambar dan video hadir di kepala gw seperti slide show buatan dosen gw. Tapi kali ini, slide show itu membawa perasaan senang ke dalam hati gw. Dan anehnya, gw bisa senyum-senyum sendiri, bahkan hampir ketawa dalam posisi baring. Dan kalimat demi kalimat pun datang, hal yg selalu terjadi kalau keterpanggilan buat nulis pengalaman gw di blog muncul. Ah, Melaka kemarin terlalu indah, bahkan terlalu indah untuk ditulis dalam sebuah coretan malam ini.

***

Hari itu adalah Rabu malam. Gw masih sibuk mengerjakan assignment dari Dr. Isham untuk kelas Logics. Di tengah kepusingan gw merangkai satu demi satu pikiran gw menjadi makalah dalam bahasa Inggris, Efan mengirim pesan Whatsapp ke HP gw, "Zul, anak2 mau ke Melaka nih, berangkat besok malam sampai Jum'at. Lo mau ikut ga?". Gw mikir sejenak buat ikut apa ngga, soalnya hari Jum'at malam gw ada rapat yg harus gw hadirin. Tapi, jalan bareng anak-anak adalah satu hal yg paling gw impi-impikan, soalnya selalu aja menyenangkan (kami pernah ke Taman Tasik Titiwangsa dulu, and it was amazing!). Btw, anak-anak ini maksudnya adalah anak-anak angkatan gw, angkatan 12( iya, angkatan lusinan yg pernah menang futsal bola gila itu loh, hahaha). Gw sempat nanya lagi ke Efan, kira-kira Jum'at malam udah balik ke kampus lagi atau belum. Efan dengan jawaban diplomatisnya meyakinkan gw, insyaallah Jum'at malam kita udah balik ke kampus. "Gimana? Ikut ngga? Kalau ikut dimasukkin ke grup nih", tanyanya lagi (udah adat anak 12 kalau mau ada acara, pasti bakal bikin grup WA). Setelah mikir-mikir dan nego-nego, gw mutusin buat ikut walaupun sebenarnya gw udah berkali-kali ke Melaka dari jaman SMP. Terus kenapa ikut? Kebersamaannya itu loh, coy! Dan akhirnya gw fix ikut, terus dimasukkan ke grup WA yg namanya MALAKA (terus dikasi emot lope-lope tiga kali).

*teks pesan WA nya Efan ga persis seperti itu. Berhubung HP gw baru hilang, gw cuma bisa mengira-ngira seperti apa bunyinya. Yah, kira-kira seperti itulah*

Ternyata di grup itu udah rame banget anak 12 yg udah join. Ada 19 orang termasuk gw. Alhamdulillah, gw bukan yg terakhir dimasukkan ke grup, masih ada Rulli yg jadi nomor terakhir (sebenarnya Efan tega juga sih baru ngajak gw di ujung-ujung -_-). Akhirnya fix 20 orang yg ikut; 8 orang cowok dan 12 orang cewek. Semuanya anak-anak 12 kecuali Nadia, karena Nadia sebenarnya anak 13, tapi sering gabung sama anak-anak 12. Tapi jangan takut Nad, walaupun lo anak 13, tapi kita sehati koq. Eh, maksudnya hati kita sama-sama 12, Nad. HAHAHA.

Minggu, 24 Agustus 2014

Perpisahan

Teringat kala aku masih berseragam merah-putih dulu, SD. Masa dimana setiap adalah sama, lugu, polos, dan putih. Setiap hari yang diisi dengan bermain dan bermain. Aku ingat, salah satu trend saat itu ialah membuat sebuah buku khusus untuk biodata teman-teman. Biasanya, ia akan bertuliskan beberapa keterangan yang nantinya akan diisi oleh sang teman, seperti nama, tempat dan tanggal lahir, hobi, cita-cita, pesan dan kesan, makanan favorit, sampai kepada hal yang paling disukai dan tidak disukai.

"HAL YANG PALING TIDAK DISUKAI?"

Sejujurnya, aku tak pernah yakin dengan apa yang aku tulis dari permintaan ini. Kadang aku menulis, "dibohongi" , kadang pula aku menulis, "rokok", atau "sakit hati", dan lain sebagainya sesuai dengan alunan moodku. Entahlah, sampai sekarang pun aku tak tahu apa jawaban yang akan ku berikan jika pertanyaan ini terlontarkan kepadaku lagi.

***

Tanggal 12 Agustus kemarin, aku kembali ke Malaysia, menuju kampus setelah menghabiskan puasa dan lebaran di rumah. Semua berjalan lancar, kegiatan kampus baru dimulai bulan depan. Aku berangkat cukup awal karena merasa bosan terlalu lama duduk di rumah tanpa pekerjaan apa-apa, aku tidak mampu hanya duduk diam menyusahkan orang-orang di rumah.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Cukup.

Entah kenapa, tiba-tiba aku sering berfikir mengenai kehidupanku sendiri. Tentang tahun demi tahun yang telah ku lewati, dan tahun demi tahun yang akan ku jalani. Kadang aku bertanya sendiri pada diriku, siapa aku? Aku ini apa? Entahlah, aku tak mampu menemukan jawaban yang menenteramkan hatiku sampai detik ini.

Di umurku yang terus bertambah, aku menyadari perlahan-lahan, aku terlalu banyak dzholim. Dzholim pada umur, dzholim pada orang tua dan orang-orang sekitarku, dzholim pada ilmu. Aku telah dzholim kepada Allah, Sang Pencipta. Aku dzholim pada diriku sendiri.

Aku telah diberikan 22 tahun untuk hidup, bernafas di bumi-Nya, menikmati keindahan ciptaannya, memiliki orang-orang baik yang Allah perkenankan aku untuk mengenal mereka. Tapi apa yang selama ini telah aku kerjakan? Sebuah pertanyaan besar yang membayangi setiap detik kesadaranku. Allah izinkan aku hidup 22 tahun, tapi aku masih sering melalaikan perkara-Nya. Allah izinkan aku bernafas 22 tahun, tapi aku sering melanggar larangan-Nya. Aku terlalu dzholim, tapi Allah terlalu baik kepadaku. Kalau Allah ingin mencabut nyawaku sekarang, maka Allah sangat berhak untuk mencabutnya, tak ada yang pantas diperjuangkan atas nyawa yang terlalu dzholim ini. Tapi, kalau Allah matikan aku sekarang, maka nerakalah tempat tujuanku. Aku pantas mendapat neraka, tapi aku tak sanggup untuk hidup di neraka. Aku menginginkan surga, tapi aku tak pantas hidup di surga. Jangan cabut nyawaku sekarang, ya Allah. Cabutlah nyawaku dalam keadaan husnul khotimah. Sungguh aku memohon belas kasih-Mu. Ampunkan hambamu yang telah dzholim kepadaMu.

Sabtu, 26 April 2014

Untukmu, Bidadari Surgaku

Untukmu,
Perempuan yg aku kagumi,
Teman pendamping hidup dan mati,
Sahabat penghias mimpi dan hari,
Cinta penentram batin dan sanubari,
Kekasih tempat melabuh hati,
Ibunda dari penerus generasi,
Bidadari surgawi, yg denganmu aku ingin hidup abadi.

Entah dimana engkau sekarang, entah apa yg engkau lakukan sekarang,
Aku berdo'a semoga engkau dalam keadaan baik-baik saja, dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Kadang aku bertanya dalam diriku, sebenarnya kamu siapa? Kamu adalah perempuan yg mana?
Aku tidak tau siapa dirimu, mungkin aku telah mengenalmu, dan mungkin aku belum mengenalmu.
Kadang aku berfikir, kenapa tidak secepatnya kamu hadir di hadapanku? Apakah kamu tidak merindukanku?
Aku merindukanmu, walaupun aku tidak tahu kamu siapa dan apakah kamu merindukanku.
Tapi takdir Allah lah yg menentukan. Tak ada sesuatu yg terjadi keluar dari apa yg Allah gariskan.
Mungkin saat ini kita belum saling bertemu, mungkin saat ini kita belum saling mengenal.
Allah sembunyikan kamu dariku, dan aku darimu, sampai waktu yg tepat datang.
Mungkin juga saat ini kita sudah saling mengenal, sudah saling dekat.
Tapi jika waktu yg Allah janjikan belum tepat, kita tak kan pernah menyatu.
Seperti dua lautan yg Allah takdirkan untuk bertemu, tapi tidak bersatu.
Kita adalah aktor, tapi tetaplah Allah yg menjadi Sang Produser,
Kita adalah puzzle dan kepingannya, tapi tetaplah Allah yg menjadi Sang Pemain,
Kita adalah mimpi-mimpi, dan hanya Allah lah yg mampu mengatur dan merangkainya.
Semuanya Allah lakukan dengan waktu yg tepat, dengan cara yg tepat.
Terpujilah Allah, kembalikan semuanya ke Allah.

***

Ya Allah, jikalau kami belum pantas berjumpa, maka sembunyikanlah kami sampai kami Engkau mantapkan, dan pantaskanlah kami untuk berjumpa dalam tangguh waktumu.
Jikalau kami belum pantas mencintai, maka cabutlah cinta kami sampai kami mencintai Engkau seutuhnya, dan pantaskanlah kami untuk bersama menggapai cintaMu
Jikalau kami belum pantas memiliki, maka cabutlah rasa ketakutan kami atas kehilangan selain Engkau, dan pantaskanlah kami untuk memiliki rasa cinta ini.

Selasa, 08 April 2014

Fenomena

Cinta mungkin adalah salah satu anugerah terindah yang Allah berikan pada makhluknya. Ia nya tak mengenal masa, usia, raga, dan dimensi yang memisahkan antara kedua manusia. Manusia tumbuh dengan cinta orang tua dan keluarga, berkembang dengan cinta teman dan lingkungannya, dan dewasa dengan cinta kepada pasangannya. Tapi cinta yang terbesar tetaplah milik Allah bagi setiap hambanya. 

Entah sejak kapan manusia mulai mengenal cinta kepada lawan jenisnya, cinta yang melebihi sekedar kecintaan seorang teman terhadap temannya, kecintaan seorang sahabat kepada sahabatnya. Cinta kadang berlawanan dengan akal manusia. Manusia terkadang tak memiliki keinginan untuk mencintai lebih dari haknya, tapi cinta bukanlah ilmu yang bisa dipelajari, dikembangkan, dan dihasilkan dari usaha demi usaha. Ia kadang tumbuh di hati manusia dari pertemuan singkat, berkembang dengan senyuman hangat, dan bersemi dengan perhatian yang tersurat.

Cinta adalah fitrah, tak ada yang salah dengan memiliki perasaan cinta. Mencintai adalah anugrah, dicintai adalah berkah. Semuanya datang dari Allah, Zat yang kepada-Nya terpulang seluruh rasa cinta.

Sayang, sebagian manusia salah dalam menyikapi cinta. Terjerumus dalam jurang yang fana, tersesat dalam gua yang hampa. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan cinta, yang salah hanyalah bagaimana kita menyikapinya. Karena cinta hanya bisa menjadi cinta yang hakiki apabila disikapi dengan tepat; menikah.

Senin, 28 Oktober 2013

Malu dan Takut

Senin, senja kala hujan turun. Hari ini aku menulis lagi setelah sekian lama absen dari dunia maya ini. Entahlah, aku rindu menulis lagi, bercerita dan sedikit berbagi perasaanku. Entahlah.

***

Setiap orang pernah melakukan kesalahan bahkan mungkin suatu pekerjaan buruk dalam hidupnya, pernah melakukan ataupun sedang, telah berhenti ataupun masih berlanjut. Mungkin bagi sebagian orang, melakukan pekerjaan tadi adalah suatu hal yg biasa saja, lumrah dan maklum. Tak ada masalah orang lain mengetahuinya dengan alasan "terima apa adanya". Tapi sebagian yg lain, membiarkan orang lain mengetahui apa yg kita lakukan adalah sangat memalukan. Karena ia adalah aib yg harus ditutup, rahasia yg harus disimpan. Takut. Sedikit berbahagialah anda yg masih merasakan takut; sebuah fitrah manusia yg sering disalah-posisikan.

Aib ada untuk disembunyikan. Ia tak bisa dilenyapkan, selalu ada dan selalu menjadi mimpi buruk bagi manusia. Pernahkah terpikir, suatu hari nanti saat anda terbangun dari tidur lelap anda, keluar dari rumah di bawah sinar matahari yg hangat seperti biasa, dan ternyata semua orang di sekitar anda tahu aib anda? Pernahkah terbayang, apa yg akan terjadi hari itu, apa yg akan anda lakukan, dan bagaimana anda akan melanjutkan hidup anda? Malu? Sekali lagi berbahagialah jika anda masih termasuk golongan yg merasakan fitrah manusia yg perlahan mulai hilang.

Takut untuk mendengar kenyataan bahwa aib anda terbongkar?
Malu untuk melihat semua orang setelah aib anda terbongkar?
Ketahuilah, aib selamanya adalah aib. Tak lebih dari hal yg setiap manusia takutkan untuk terbongkar, tak juga dari hal yg akan meninggalkan rasa malu ketika ia terbongkar. 

Jika takut dan malu yg kita rasakan kepada manusia sangat besar, maka kepada Allah? Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui apa yg manusia sembunyikan.

إنما ذلكم الشيطان يخوف أولياءه فلا تخافوهم و خافوني إن كنتم مؤمنين

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaithan yg menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yg beriman - Ali Imran 175

Sadarilah satu hal, ketika hari dimana semua mimpi buruk ini menjadi nyata adalah hari dimana Allah menegur kita, memperlihatkan betapa lemah dan hinanya manusia, dan meminta kita untuk kembali ke sisiNya.

Kembalilah selagi masih ada waktu, berbuatlah kebaikan selagi masih ada nafas, sebelum Allah pertunjukkan semuanya di hari yg tak ada lagi perlindungan kecuali dariNya.

و اتقوا يوما ترجعون فيه إلى الله ثم توفى كل نفس ما كسبت و هم لا يظلمون

Dan peliharalah dirimu dari (azab yg terjadi pada) hari yg pada waktu itu semya dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diberi balasan yg sempurna terhadap apa yg dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya - Al Baqarah 281

-sebuah catatan untuk diri sendiri

Jumat, 12 Juli 2013

Al-Ustadz KH.Hasan Abdullah Sahal

Masih dengan judul yg sama dan tema yg sama. Hanya saja kali ini aku mengutip dari bang Fahmi Agustian, semoga bermanfaat :)

Setelah sekian lama tidak memiliki kesempatan mendengarkan tausiyah Ust. Hasan, Alhamdulillah sabtu pekan lalu kesempatan itu akhirnya datang juga di acara Silaturrhami keluarga besar IKPM Gontor cabang Yogyakarta. Beliau merasa berhutang untuk datang ke Yogyakarta setelah sekian banyak alumni datang mengunjungi beliau ke rumah beliau di area Pondok Tahfidz Al Muqoddasah, sehingga beliau merasa harus menunaikan hutangnya untuk mengunjungi keluarga besar IKPM Yogyakarta.

Acara dimulai menjelang pukul 14.00 siang, Hymne Oh Pondokku kembali aku nyanyikan setelah sekian tahun hanya mendengarkan melalui media player notebook ideapad Y430, hari itu aku kembali menyanyikan Hymne Oh Pondokku setelah sekian tahun hanya bisa mendengarkan dari media player di Ideapad Y430-ku.  Setelah sambutan dari tuan rumah dan ketua IKPM cabang Yogyakarta, ayahanda K.H. Hasan Abdullah Sahal memberi tausiyah.

Seperti biasanya, beliau tidak merubah gaya beliau saat memberikan tausiyah, mulai dari pembukaan dan intonasi suaranya, masih sama seperti saat dulu aku mendengarkan tausiyah beliau ketika masih di Gontor beberapa tahun silam. Beliau tidak ingin, di usianya yang sudah menginjak 60 tahun, beliau masih memiliki hutang, apalagi hutang silaturrahmi.

Al-Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal

 Pagi ini, ntah kenapa aku teringat dengan salah seorang Kyaiku, pimpinan pondok modern Darussalam Gontor. Beliau adalah KH. Hasan Abdullah Sahal, sosok teladan yg penuh dengan wibawa. Kali ini aku akan menuliskan pidato yg pernah beliau sampaikan dulu, aku mengutipnya dari bang Gus AR. Selamat membaca :)
(Pidato ini disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal pada malam serah terima amanat Koordinator Gerakan Pramuka. Saya rekam dan saya tulis ulang, karena saya anggap menarik, sangat menarik, maka saya sampaikan kepada teman-teman, semoga ada manfaatnya). Baca yang pelan, ikuti gaya bicara Ust Hasan ketika beliau berpidato, terasa enak dibaca. selamat membaca ya...

Manusia ingat dunia lupa akherat adalah sumber bencana, manusia berusaha tanpa berdoa adalah bencana, manusia berdoa tanpa berusaha adalah bencana. Yang di atas tidak merasa kalau di atas, tidak mau bertanggungjawab atas amanatnya. Yang di bawah juga tidak mau tahu kapan taat dan kapan tidak taat. Disinilah sumber bencana “Karena adanya kekosongan, al ajwaf-jawfa’, keropos, memikirkan materi ndak memikirkan moral, orang memikirkan moral tidak memikirkan materi, akhirnya kekosongan”. Alam rusak karena manusia, manusia tidak menempatkan dirinya sebagai makhluk yang akan memimpin alam. Nabi kita, Nabi kita itu rahmatan lil’alamin, wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin, wa nunazzilu minal Qur’ani maa huwa syifaa’un wa rahmatun. Rahmah, untuk supaya kerahmatanlil’alaminnya Nabi kita Muhammad, untuk menjadi fungsinya al Qur’an sebagai syifa’ dan rahmah perlu hidayah, dan Islam itu lah yang namanya hidayah.

Bagaimana alam di sekitar ini tetap abadi, tetap terjaga, tetap bermanfaat?. Semua itu untuk manusia, di dalam beribadah kepada Allah, Lakum”. Di dalam al Qur’an itu “khalaqo lakum maa fissamaawaati wal ardh” “ja’ala lakumul ardho”, lakum, “alladzii ja’ala lakumul ardho firoosyan wassamaa_a binaa_an”, lakum. Kamu kalau bertanya “hai kebo, hai wedus, hai kadal, kodok, kamu diciptakan untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu wahai manusia”. Bertanya kepada nyamuk “Kamu nyamuk diciptakan di dunia untuk apa?”. Mereka akan menjawab“untukmu manusia”. Apalagi tumbuh-tumbuhan, untukmu. Tetapi manusia diciptakan “liya’buduni” untuk menyembah Allah.

Minggu, 12 Mei 2013

Happy Mother's Day!!

Siang imi, dua orang kakak-beradik sedang bertengkar ketika melihat masjid:

"Tengok tu, azan!"
"Bukaan, muazin!'
"Azaaan!!"
"Muaziiin!!"
"Itu namanya masjid, sayang. Rumah Allah, tempat kite shalat", akhirnya sang ibu melerai mereka.
"Oooh, masjid yee", sahut keduanya.

***

Siang itu, aku sedang berada di dalam bus menuju stasiun LRT Taman Melati. Aku pergi menemani ayahku berbelanja membeli-belah oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Tanjungpinang. Selama perjalanan, aku lebih banyak melamun, menikmati megah gedung demi gedung di Kuala Lumpur ini. Hingga akhirnya aku agak terganggu oleh pertengkaran dua kakak-beradik tadi. Awalnya, aku berniat untuk mengacuhkan mereka. Tapi, sesaat kemudian, aku tertegun mendengar perkataan sang ibu kepada dua anaknya tadi. Seketika rasa kesalku menguap, dan perlahan aku berfikir; Seandainya sang ibu tadi tidak ada, bukankah kedua anak ini akan tumbuh menjadi remaja dan tidak mengenal kata "masjid"?.

Rabu, 24 April 2013

Ayah, Ibu, Terimakasih :')


IIUM. Kampus yg terbilang besar dan maju. Mahasiswa dari berbagai penjuru datang kesini demi satu tujuan; menuntut ilmu. Bahasa yg dipakai adalah bahasa Inggris dan Arab. Fasilitas terbilang lengkap. Penuh dengan bangunan untuk kelas, asrama, dan auditorium. Luas kampus cukup untuk membuat kakiku kekar karena harus tiap hari bolak-balik kamar-kelas setiap hari. Dengan segala kelebihannya, wajar kampus ini sangat modern dalam sistem akademiknya, walaupun modernnya sistem ini kadang malah memusingkan pelajarnya. Dan salah satunya adalah aku. Khususnya dalam masalah pre-registration secara online. Ketika masa pre-reg datang, maka akan ada ribuan mahasiswa berebut untuk mendapatkan sepotong kursi dari kelas subjek yg diinginkan. Masalah lainnya adalah ada banyak subjek yg harus diambil; ada yg mudah, dan ada yg susah. So, if you wanna study easily, you have to arrange your study plan well.


Ada 45 subjek yg harus kuambil untuk mencapai strata satu, sebagian besar berbahasa Inggris dan sebagian lainnya berbahasa Arab. Bagiku pribadi, subjek yg berbahasa Arab jauh lebih mudah daripada yg berbahasa Inggris, karena basic bahasaku lebih cenderung ke Arab daripada Inggris. Kemarin, aku mendapat kabar bahwa subjek yg disediakan untuk semester 3 (semester pendek) sudah bisa dilihat di website IIUM. Aku pun buru-buru membuka laptop dan mulai meneliti course schedule di web tersebut. Dan ternyataaaa... untuk semester pendek ini (ohya, disini ada 3 semester per tahun; semester 1 dan 2 yaitu semester panjang selama 4 bulan, dan semester 3 yaitu semester pendek selama 2 bulan), aku hanya bisa mengambil 3 subjek! Dan semuanya berbenturan! Kelihatannya aku hanya bisa mengambil satu subjek untuk semester ini. Aku mengambil lembar study planku, mencermati setiap subjek yg harus ku ambil. Dan aku trance sesaat sambil membayangkan tahun-tahun yg harus kulewati di kampus ini. Aku down, dan tiba-tiba aku teringat ibuku. Segera ku ambil handphoneku dan mulai menekan beberapa nomor. Tuuut... Tuuut... "Halo Assalamu'alaikum...". Dan suara lembut dari ujung sana pun mengalun lembut menyejukkanku.

Senin, 11 Maret 2013

Wasiat dari Seorang Kyai

Saya berbicara kali ini betul-betul dengan ihlas. Hanya akan saya ambil sedikit-sedikit, dan singkatnya, atau pucuknya saja. Semua yang akan saya sampaikan ini bahkan sedikitnya direkam dan rekaman ini nanti mudah dijadikan buku dan dapat dibaca oleh seluruh umat, sampai sampai pada anak cucu saya sendiri dan anak-anaku sekalian yang ada.

Sebagai mukaddimah, jangan sampai salah terima, kalau pondok modern, Pak Sahal ataupun Pak Zarkasi, itu anti kepada siapapun yang menjadi pegawai, anti kepada priyai, anti kepada buruh, tidak!

Sama sekali tidak. Ini supaya dicatat lebih dulu. Saya tidak menghalangi, saya tidak anti, saya tidak memusuhi, orang yang menjadi pegawai. maka disini saya tekankan di dalam niatmu. Jangan salah niat, kalau sampai salah niat akan rugi hidupmu. Selama hidupmu hanya akan rugi karena salah niat.

Kalau saya, rumah tangga saya, anak istri cucu saya kebetulan kecukupan, jangan katakan saya ini bangga. Saya hanya bersukur saja. Hanya kebetulan, bukan sombong, dan tidak bangga.

Umpamanya masuk pondok modern ini ingin jadi pegawai, itu berarti niatmu sudah kalang kabut. Jangan sampai niatmu itu rusak. Maka disini saya beri jalan, bagaimana cara orang hidup.

Kalau sekarang anak-anak ini kebetulan melarat orang tuanya, jangan kecil hati. Sekiranya anak-anak ini kaya orang tuanya, jangan berbesar hati. Ini diantaranya saya anggap penting dalam pembicaraan saya ini. saya tidak punya apa-apa, tetapi berani hidup. BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI. TAKUT MATI JANGAN HIDUP, TAKUT HIDUP MATI SAJA, ini semboyan saya.

Selasa, 19 Februari 2013

Tajdiidun Niyyah



Sekilas kalimat ini terdengar asing di telinga kita, khususnya orang awam yg tak pernah merasakan kejamnya belajar bahasa Arab. Tajdiidun Niyyah artinya “pembaharuan niat”. Sebelumnya saya akn mencoba menjelaskan sedikit tentang niat, setelah itu masuk ke “pembaharuan” tadi. Bismillah.

Dalam Islam (dan saya yakin di agama lain juga begitu), niat memiliki peran penting dalam setiap perbuatan manusia. Karena hampir semua pekerjaan manusia diawali dengan niat. Niat menentukan apa balasan yg akan didapat dari pekerjaan tersebut (walaupun pekerjaan tersebut baru mendapat balasan; entah itu baik atau buruk, setelah benar-benar dikerjakan). Khalifah Umar RA. pernah berkata, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda:

إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ - متفق عليه
Artinya: Sesungguhnya setiap pekerjaan itu dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa-apa dari yg diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya sampai kepada Allah dan Rasul-nya. Barang siapa yang berhijrah karena dunia yang diingininya atau perempuan yang dinikahininya, maka hijrahnya sampai kepada apa yg diniatkan untuk berhijrah kepadanya.

Senin, 20 Agustus 2012

Life Path


Ada yang bilang, manusialah yang menentukan jalan hidupnya sendiri. Berarti jika kita bercita-cita ingin menjadi pengusaha sukses, punya rumah real estate, punya kapal pesiar, bisa bikin pabrik pribadi, kita hanya perlu berjalan dijalannya seorang pengusaha sukses. Jika kita ingin menjadi dokter, kita hanya perlu  berjalan di jalan yang sama dengan jalannya dokter-dokter terkenal abad ini. Tapi semudah itukah?

Saya sendiri masih bingung dengan jalan hidup saya. Kemana saya akan kuliah? Ke Malaysia? Kenapa? Jurusan apa? Mau jadi apa? Nanti mau ngapain? Hadeeh -_-

Berapa banyak orang yang bercita-cita menjadi presiden malah menjadi dosen? berapa banyak orang yang ingin menjadi guru berakhir menjadi tukang sapu? berapa banyak orang yang berharap menjadi cendikiawan malah berprofesi sebagai loper koran? atau kembali ke contoh tadi; kita bercita-cita menjadi pengusaha sukses, tapi malah rugi, berharap untung malah buntung, boro-boro punya rumah real estate, punya kapal pesiar, bisa bikin pabrik pribadi, ujung-ujungnya gulung tikar, alias bangkrut.

Jumat, 10 Agustus 2012

Cinta; Galau dan Kasmaran

Saat ini, detik ini juga, saya baru saja membaca salah satu postingan teman saya di Fesbuk;

"it's your job to protect me, hehe"

So sweet ya? postingan khasnya anak muda kasmaran zaman sekarang. Atau yang seperti ini;

"cinta itu terkadang membingungkan"

Yang membedakan antara yang pertama dan yang kedua adalah, yang pertama dalam kondisi kasmaran, yang kedua dalam posisi galau. Dua buah kutub yang selalu bertolak belakang tapi tak pernah berjauhan. Tapi, tanpa perlu kita telusuri dahulu siapa orang yang memposting ini, kita sudah tahu, ini pasti postingannya anak muda.


Kalau diingat-ingat, dulu saya juga pernah muda (ga mungkin langsung tua, masa baru keluar langsung jenggotan). Dan saya juga pernah merasakan kasmaran-galau. Tapi, kayaknya saya ngga senarsis itu. Dan saya yakin anda-anda yang telah melewatkan masa-masa SMA anda juga meraskan hal yang sama. Wajar sih. Tapi apakah harus semua yang hati kita rasakan kita ungkapkan di media sosial

Kamis, 09 Agustus 2012

Akhir dari Sebuah Penantian

5 tahun yang lalu, kalo ga salah bulan Juni 2007, hari apa saya lupa. Tapi pada hari itulah hari pertama saya menjejakkan kaki saya di pondok Darussalam, dengan status santri. Banyak suka-duka yang saya rasakan, bayak teman-teman yang menghiasi hari-hari saya, banyak pelajaran yang saya ambil dan terima dari pondok tercinta ini. Sekarang, tepatnya 2 hari yang lalu, 7 Agustus 2012. Saya resmi keluar dari pondok ini dengan status alumni. Tentu saja dengan mengantongi ijazah.


Pada kesempatan kali ini, izinkan saya sedikit merangkum "kisah hidup saya" di postingan kali ini.

TAHUN PERTAMA (2007/2008)

Ini adalah tahun yang paling berbekas di hati  saya. Saya, seorang alumni dari sebuah SMP Negeri, tahu agama ala-kadarnya, ibadah sering bolong, banyak maksiat dan lain sebagainya, mendapat hidayah dari Allah untuk masuk ke pondok. saat teman-teman saya mendengar berita ini, gemparlah kota Tanjungpinang. Karena, terus terang saja, dari seluruh penduduk Tanjungpinang, yang belajar di pondok mungkin kurang dari 1%. Saya yang dari awal sudah yakin saya boro-boro lulus, pasti ga bakal kuat belajar di pondok, ga bakal betah. Tapi ada yang lain yang saya rasakan waktu itu. Ketika shalat subuh di masjid Jami' pondok. Yang pertama kali saya ingat waktu itu adalah kedua orang tua saya. Setelah itu saya ingat semua dosa-dosa saya dulu. Terakhir saya mikir, kapan kematian akan datang. setelah itu, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menangis. Betul-betul menangis saat shalat. Akhirnya saya bulatkan tekad saya, saya akan bersungguh-sungguh di pondok ini, walaupun saingan saya kebanyakan adalah alumni pondok. Maka, mulai hari itu, saya belajar di pondok dengan sungguh-sungguh. Tak terasa, hari pengumuman hasil ujian penerimaan siswa baru tiba, saya lulus ga ya?, batin saya sambil mendengar nama-nama santri yang diterima yang dibacakan di lapangan. "Nomor 898, Ananda Zulfian W Alwihkan", Alhamdulillah saya lulus! Maka mulailah setahun yang panjang beradaptasi dari kehidupan diluar pondok menjadi hidup didalam pondok. Dan ajaibnya saya bisa masuk ke kelas teratas se-angkatan. Mengalahkan alumni-alumni pondok. Juga sempat menjadi pengibar bendera pondok, dan diajak bergabung dengan klub bola, DJ (Darma Jaya). Alhamdulillah.

Selasa, 24 Juli 2012

Potret Kelam Seorang Idola


Nazriel Irham a.k.a Ariel. Siapa yang tidak kenal? Vokalis dari band asal Bandung, Peterpan ini meroket namanya dengan album Bintang di Surga. Tak ada yang tak kenal dengan Ariel. Bahkan hingga saat ini, lagu Ada Apa Denganmu masih dinikmati oleh banyak kalangan. Suara yang khas, tampang yang masuk kategori "ganteng", popularitas yang tak tertandingi, membuatnya menjadi idola seluruh umat, terutama kaum hawa. Seluruhnya terkemas begitu sempurna hingga akhirnya terkuak video porno yang direkam oleh Ariel bersama rekan-rekan artis lain pada tahun 2010. Yang terendus (emangnya tulang diendus) memang hanya dua orang, tapi yang tidak terendus bisa jadi lebih banyak dua kali lipat.

Hukum akhirnya berbicara, memutuskan bahwa Ariel harus dihukum penjara selama 2 tahun. Ribuan lidah protes, jutaan mata menangis, milyaran manusia menolak kenyataan. Tapi palu telah berayun, Ariel pun masuk penjara.

Rabu, 18 Januari 2012

Mengharap Kemilau Rembulan di Terik Mentari, Menanti Terik Mentari di Kemilau Rembulan...

Seorang anak TK, suatu hari ia melihat anak-anak SD yang sedang bermain bola beramai-ramai. Ia berfikir, "Enak ya jadi anak SD, punya temen banyak". Tibalah hari ia menjadi anak SD, kali ini ia melhat anak-anak SMP yang sedang mengendarai motor. Ia berfikir, "Enak ya jadi anak SMP, bisa bawa motor". 6 tahun berlalu, ia pun sudah menduduki bangku SMP. Ia melihat seorang remaja SMA sedang berjalan berduaan dengan pasangannya di taman, Ia berfikir, "Enak ya jadi anak SMA, bisa berdua-duaan gitu". Waktu berlalu, ia pun resmi mengenakan pakaian putih abu-abu. Apa yang dilihatnya kali ini? Ia melihat mahasiswa kuliahan yang baru pulang karena sedang libur. Ia berfikir, "Enak ya jadi mahasiswa, bisa hidup sendiri". Tibalah hari ia menjadi mahasiswa, ngekos, sendiri, jauh dari keluarga. Merupakan awal yang menyenangkan baginya merasakan kehidupan yang jauh berbeda dengan hidupnya dulu. Bebas, dan tanpa tekanan. Sebulan, dua bulan... hingga genap setahun ia hidup jauh dari orangtuanya. Ia mulai merindukan masa-masa kecilnya dulu, ketika ia TK, segala sesuatu yang dibutuhkannya tinggal minta. Keluarga selalu ada di sisinya. Mengingat wajah ayah dan ibunya, perlahan membuatnya sesak. Ia pun menitikkan air mata, kemudian ia berfikir, "Enak ya jadi anak TK, tapi sayang, tak mungkin kuputar waktu kembali".

Jumat, 04 November 2011

~~~ :)

Ketika kau tertawa, bungkuslah tawamu dalam senyuman...
Ketika kau menangis, endapkan tangismu dalam senyuman...
Tak perduli apa yang terjadi, tunjukkan senyummu pada dunia...
Cukup senyummu yang mereka tahu...
Apa yang didalamnya biarkan hanya untukmu dan Tuhanmu...



Tersenyum adalah hal yang paling mudah dan sederhana, tapi terkadang sangat sulit untuk dikerjakan. Tersenyum hanya membutuhkan 17 otot muka (dibandingkan dengan mengerutkan muka yang membutuhkan 43 otot muka), tentunya sangat mudah untuk dikerjakan. Tapi apa yang kita temukan saat ini, jarang orang yang mampu untuk tersenyum, entah dikarenakan menumpuknya masalah ataupun ia telah lupa dengan cara tersenyum. Senyuman tulus ikhlas dari hati adalah salah satu hal tersulit untuk dikerjakan di dunia ini. Padahal dengan tersenyum kita akan merasa lebih ringan menghadapi segala masalah kita. Wajah yang tersenyum tentunya juga "enak" dipandang oleh orang lain yang sedang kesulitan. Maka, tersenyumlah. Untukmu, untuk hidupmu, untuk orang-orang yang kamu sayangi. Tersenyumlah untuk Sang Maha Agung.

Tak perduli apa yang terjadi...
Cukup senyummu yang mereka tahu...

Senin, 31 Oktober 2011

Manusia itu Makhluk (jejaring) Sosial


Siapa yang tak kenal facebook? Siapa yang tak kenal twitter? Dua situs jejaring sosial yang paling “wah” abad ini. Dari anak kecil TK sampai kakek-kakek hampir semuanya memiliki akun dua situs jejaring sosial ini. Situs yang berlogokan huruf “F” dan “burung berkicau” ini menawarkan banyak fitur yang sangat menarik bagi umat manusia terutama anak muda. Bayangkan, kalau dulu anda harus bersusah-payah mengunjungi puluhan teman anda, menelpon mereka satu persatu, hanya untuk sekedar mengucapkan “selamat idul fitri ya…”. Tapi sekarang, cukup dengan menyambungkan komputer anda dengan modem, ketik beberapa kalimat maka ucapan selamat hari raya anda sudah dapat dinikmati seluruh teman-teman anda. Bahkan teman-teman lama anda pun dapat ditemukan dengan begitu mudahnya dengan dua situs ini. Anda pun bisa chattig dengan teman-teman anda di seluruh penjuru dunia seolah-olah ia berada disamping anda. Dengannya jarak sejauh apapun terhapus. Dan dengan 128 huruf, anda bisa menjadi seorang selebritis di dunia maya.


Tapi, setiap sesuatu yang memiliki nilai positif, selalu memiliki nilai negatif.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Pahami Diri Kita

 

Kita tidak punya kewajiban untuk memahami diri orang lain, dalam konteks tidak egois tentunya. Yang harusnya kita pahami itu adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.

Kenapa? Karena sebenarnya jika kita mampu memahami diri kita sendiri, maka kita akan tahu dan sadar, apa yang seharusnya kita lakukan untuk teman kita, apa yang sewajarnya kita perbuat terhadap orang tua kita, apa yang sepantasnya kita hadirkan untuk orang-orang yang kita cintai. Jadi, apabila kita telah mampu memahami diri kita sendiri, kita akan tahu apa posisi kita terhadap orang lain, dan secara tidak langsung kita telah memahami orang lain.

Tapi sayang, tak jarang kita "gagal" memahami diri kita sendiri.