Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Agustus 2014

Perpisahan

Teringat kala aku masih berseragam merah-putih dulu, SD. Masa dimana setiap adalah sama, lugu, polos, dan putih. Setiap hari yang diisi dengan bermain dan bermain. Aku ingat, salah satu trend saat itu ialah membuat sebuah buku khusus untuk biodata teman-teman. Biasanya, ia akan bertuliskan beberapa keterangan yang nantinya akan diisi oleh sang teman, seperti nama, tempat dan tanggal lahir, hobi, cita-cita, pesan dan kesan, makanan favorit, sampai kepada hal yang paling disukai dan tidak disukai.

"HAL YANG PALING TIDAK DISUKAI?"

Sejujurnya, aku tak pernah yakin dengan apa yang aku tulis dari permintaan ini. Kadang aku menulis, "dibohongi" , kadang pula aku menulis, "rokok", atau "sakit hati", dan lain sebagainya sesuai dengan alunan moodku. Entahlah, sampai sekarang pun aku tak tahu apa jawaban yang akan ku berikan jika pertanyaan ini terlontarkan kepadaku lagi.

***

Tanggal 12 Agustus kemarin, aku kembali ke Malaysia, menuju kampus setelah menghabiskan puasa dan lebaran di rumah. Semua berjalan lancar, kegiatan kampus baru dimulai bulan depan. Aku berangkat cukup awal karena merasa bosan terlalu lama duduk di rumah tanpa pekerjaan apa-apa, aku tidak mampu hanya duduk diam menyusahkan orang-orang di rumah.

Jumat, 12 Juli 2013

Al-Ustadz KH.Hasan Abdullah Sahal

Masih dengan judul yg sama dan tema yg sama. Hanya saja kali ini aku mengutip dari bang Fahmi Agustian, semoga bermanfaat :)

Setelah sekian lama tidak memiliki kesempatan mendengarkan tausiyah Ust. Hasan, Alhamdulillah sabtu pekan lalu kesempatan itu akhirnya datang juga di acara Silaturrhami keluarga besar IKPM Gontor cabang Yogyakarta. Beliau merasa berhutang untuk datang ke Yogyakarta setelah sekian banyak alumni datang mengunjungi beliau ke rumah beliau di area Pondok Tahfidz Al Muqoddasah, sehingga beliau merasa harus menunaikan hutangnya untuk mengunjungi keluarga besar IKPM Yogyakarta.

Acara dimulai menjelang pukul 14.00 siang, Hymne Oh Pondokku kembali aku nyanyikan setelah sekian tahun hanya mendengarkan melalui media player notebook ideapad Y430, hari itu aku kembali menyanyikan Hymne Oh Pondokku setelah sekian tahun hanya bisa mendengarkan dari media player di Ideapad Y430-ku.  Setelah sambutan dari tuan rumah dan ketua IKPM cabang Yogyakarta, ayahanda K.H. Hasan Abdullah Sahal memberi tausiyah.

Seperti biasanya, beliau tidak merubah gaya beliau saat memberikan tausiyah, mulai dari pembukaan dan intonasi suaranya, masih sama seperti saat dulu aku mendengarkan tausiyah beliau ketika masih di Gontor beberapa tahun silam. Beliau tidak ingin, di usianya yang sudah menginjak 60 tahun, beliau masih memiliki hutang, apalagi hutang silaturrahmi.

Al-Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal

 Pagi ini, ntah kenapa aku teringat dengan salah seorang Kyaiku, pimpinan pondok modern Darussalam Gontor. Beliau adalah KH. Hasan Abdullah Sahal, sosok teladan yg penuh dengan wibawa. Kali ini aku akan menuliskan pidato yg pernah beliau sampaikan dulu, aku mengutipnya dari bang Gus AR. Selamat membaca :)
(Pidato ini disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal pada malam serah terima amanat Koordinator Gerakan Pramuka. Saya rekam dan saya tulis ulang, karena saya anggap menarik, sangat menarik, maka saya sampaikan kepada teman-teman, semoga ada manfaatnya). Baca yang pelan, ikuti gaya bicara Ust Hasan ketika beliau berpidato, terasa enak dibaca. selamat membaca ya...

Manusia ingat dunia lupa akherat adalah sumber bencana, manusia berusaha tanpa berdoa adalah bencana, manusia berdoa tanpa berusaha adalah bencana. Yang di atas tidak merasa kalau di atas, tidak mau bertanggungjawab atas amanatnya. Yang di bawah juga tidak mau tahu kapan taat dan kapan tidak taat. Disinilah sumber bencana “Karena adanya kekosongan, al ajwaf-jawfa’, keropos, memikirkan materi ndak memikirkan moral, orang memikirkan moral tidak memikirkan materi, akhirnya kekosongan”. Alam rusak karena manusia, manusia tidak menempatkan dirinya sebagai makhluk yang akan memimpin alam. Nabi kita, Nabi kita itu rahmatan lil’alamin, wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin, wa nunazzilu minal Qur’ani maa huwa syifaa’un wa rahmatun. Rahmah, untuk supaya kerahmatanlil’alaminnya Nabi kita Muhammad, untuk menjadi fungsinya al Qur’an sebagai syifa’ dan rahmah perlu hidayah, dan Islam itu lah yang namanya hidayah.

Bagaimana alam di sekitar ini tetap abadi, tetap terjaga, tetap bermanfaat?. Semua itu untuk manusia, di dalam beribadah kepada Allah, Lakum”. Di dalam al Qur’an itu “khalaqo lakum maa fissamaawaati wal ardh” “ja’ala lakumul ardho”, lakum, “alladzii ja’ala lakumul ardho firoosyan wassamaa_a binaa_an”, lakum. Kamu kalau bertanya “hai kebo, hai wedus, hai kadal, kodok, kamu diciptakan untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu wahai manusia”. Bertanya kepada nyamuk “Kamu nyamuk diciptakan di dunia untuk apa?”. Mereka akan menjawab“untukmu manusia”. Apalagi tumbuh-tumbuhan, untukmu. Tetapi manusia diciptakan “liya’buduni” untuk menyembah Allah.

Kamis, 09 Agustus 2012

Akhir dari Sebuah Penantian

5 tahun yang lalu, kalo ga salah bulan Juni 2007, hari apa saya lupa. Tapi pada hari itulah hari pertama saya menjejakkan kaki saya di pondok Darussalam, dengan status santri. Banyak suka-duka yang saya rasakan, bayak teman-teman yang menghiasi hari-hari saya, banyak pelajaran yang saya ambil dan terima dari pondok tercinta ini. Sekarang, tepatnya 2 hari yang lalu, 7 Agustus 2012. Saya resmi keluar dari pondok ini dengan status alumni. Tentu saja dengan mengantongi ijazah.


Pada kesempatan kali ini, izinkan saya sedikit merangkum "kisah hidup saya" di postingan kali ini.

TAHUN PERTAMA (2007/2008)

Ini adalah tahun yang paling berbekas di hati  saya. Saya, seorang alumni dari sebuah SMP Negeri, tahu agama ala-kadarnya, ibadah sering bolong, banyak maksiat dan lain sebagainya, mendapat hidayah dari Allah untuk masuk ke pondok. saat teman-teman saya mendengar berita ini, gemparlah kota Tanjungpinang. Karena, terus terang saja, dari seluruh penduduk Tanjungpinang, yang belajar di pondok mungkin kurang dari 1%. Saya yang dari awal sudah yakin saya boro-boro lulus, pasti ga bakal kuat belajar di pondok, ga bakal betah. Tapi ada yang lain yang saya rasakan waktu itu. Ketika shalat subuh di masjid Jami' pondok. Yang pertama kali saya ingat waktu itu adalah kedua orang tua saya. Setelah itu saya ingat semua dosa-dosa saya dulu. Terakhir saya mikir, kapan kematian akan datang. setelah itu, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menangis. Betul-betul menangis saat shalat. Akhirnya saya bulatkan tekad saya, saya akan bersungguh-sungguh di pondok ini, walaupun saingan saya kebanyakan adalah alumni pondok. Maka, mulai hari itu, saya belajar di pondok dengan sungguh-sungguh. Tak terasa, hari pengumuman hasil ujian penerimaan siswa baru tiba, saya lulus ga ya?, batin saya sambil mendengar nama-nama santri yang diterima yang dibacakan di lapangan. "Nomor 898, Ananda Zulfian W Alwihkan", Alhamdulillah saya lulus! Maka mulailah setahun yang panjang beradaptasi dari kehidupan diluar pondok menjadi hidup didalam pondok. Dan ajaibnya saya bisa masuk ke kelas teratas se-angkatan. Mengalahkan alumni-alumni pondok. Juga sempat menjadi pengibar bendera pondok, dan diajak bergabung dengan klub bola, DJ (Darma Jaya). Alhamdulillah.

Rabu, 01 Agustus 2012

It's Gonna be A Long Night~


Tanggal 8 September, hari dimana aku menjejakkan kakiku untuk pertama kali di pondok tercinta, Darul Muttaqien, Banyuwangi. Cabang dari pondok Darussalam yang berada di Ponorogo. Masih terngiang dikepalaku ucapan-ucapan para wali-wali santri saat yudisium dulu, "Darul Muttaqien tu jauh, susah kalau mau kesana" , "Disana tu hutan semuanya, sepi!", "anak-anaknya nakalnya na'udzubillah", "berat ngabdi disana, kan ga ada kuliahan", "pokoknya kalau bisa jangan disana". Dulu aku sempat berfikir, Ya Allah, begitu besarkah dosa hamba-Mu ini, hingga kau tempatkan hamba disana?. Sudah terbayang dikepalaku bagaimana bentuk pondok ini, kecil, suram, terpencil, kiri-kanannya hutan, sepi. Belum ditambah dengan santri-santri yang tingkat kenakalannya tinkat dewa. Ya Allah!

Tapi semuanya berlangsung cepat.

Selasa, 31 Juli 2012

Senin, 30 Juli 2012

Elegi Seorang Pengajar - 3

"ingat akhi, kenangan yang haqiqi bukan pada sebuah foto, video, ataupun file-file yang ada di flashdisk. Kenangan yang haqiqi ada disini *nunjuk ke dada*. Foto bisa sobek, video bisa rusak, bahkan file pun bisa hilang. Tapi kenangan yang ada di hati kita masing-masing akan selalu ada, sampai kapanpun"
Zulfian, pembukaan semeter kedua

Setahun. Genap setahun sudah masa yang saya lalui bersama anak-anak didik saya, kelas 2B. Banyak canda dan tawa, banyak tangis dan air mata, begitu banyak kenangan yang terukir begitu dalam di hati ini.


Teringat rutinitas harian yang saya lakukan dulu, pagi, setelah shalat subuh dan baca Qur'an saya akan duduk di depan kamar sambil membawa segelas susu hangat sambil memperhatikan mereka belajar, kemudian membacakan absen belajar pagi. Dan hampir setiap hari saya harus mengajar kelas 2B untuk pelajaran Muthola'ah dan Insya'. Setelah Ashar, biasanya ada beberapa anakyang datang untuk menyetorkan hafalan Juz Amma. Setelah Maghrib, datang lagi beberapa anak untuk membaca Al-Qur'an bersama. Malam, kembali saya berkewajian menemani mereka belajar. Bahkan setelah absen malampun saya tetap harus menemani mereka belajar malam kemudian membaca absen malam. Itu belum termasuk kasus beberapa anak yang datang meminjam uang, meminjam handphone, ingin konsultasi, dan lain sebagainya.

Jumat, 27 Juli 2012

Agen Kejahatan (part-2)


Setelah menghabiskan satu minggu di Malaysia dengan penuh kekhawatiran, saya kembali lagi ke bumi pondok tercinta Darul Muttaqien hari Kamis, tanggal 19 Juli melalu penerbangan Kuala Lumpur - Bali yang langsung dilanjutkan nyebrang ke tanah Jawa. Saya sampai di ponitudok jam 2 malam dengan badan remuk dan perasaan was-was.

Sebelumnya saya sempat diceritakan duduk permaslahannya oleh teman saya, Renaldi melalu telepon. Tiket kami tidak ada. Dan ketika dikonfirmasi ke pihak agen, kami dituduh belum melunasi pembayaran sembari menunjukkan surat pernyataan bermaterai yang sempat kami tanda tangani dengan buru-buru sebelum kami berangkat. Intinya, kami ditipu. Shit!

Kamis, 26 Juli 2012

Lupa, Lupalupalupa~


Manusia, sebenarnya berasal dari bahasa arab yang berarti man nasiya (yang lupa).

Hakikatnya, manusia adalah makhluk yang sering lupa atu lalai. Lupa janji, lupa kerjaan, lupa tugas, bahkan lupa mandi *hayo siapa ini?*.  Dalam masalah duniawi, lupa bisa berakibat fatal, hilangnya pekerjaan, kesempatan, bahkan rezeki.


Dalam masalah ibadah, orang yang lupa tidak bisa ditimpakan atasnya hukuman. Tapi ini, tentu saja dengan menilik sisi-sisi dari lupa tersebut, apakah lupa itu benar-benar lupa, atau "dilupa-lupakan". Hal ini berdasarkan hadi Rasulullah SAW:

Senin, 23 Juli 2012

Agen Kejahatan (part-1)

Kisah ini bermula 2 bulan yang lalu, dimana saat itu saya dan teman saya selaku pembimbing Konsulat Riau (organisasi untuk santri-santri yang berasal dari daerah Riau dan sekitarnya) mulai befikir untuk mengurus perpulangan konsulat ini. Sudah menjadi kewajiban kami sebagai guru, untuk menjadi pembimbing konsulat *cie...*. Mungkin kedengarannya keren, pembimbing, tapi pekerjaannya berbanding lurus dengan kebesaran namanya.

Menjadi pembimbing konsulat berarti kami harus siap untuk membimbing, mengurus, mengatur, konsulat ini. Asal anda tau saja, konsulat ini isinya 150 orang! Bahkan kalau di pondok pusat, jumlahnya bisa meledak sampai 300 orang! WOW! Kami harus mau mendengar, mengomentari, mengambil keputusan, bahkan memarahi anggota konsulat yang bersalah. Tapi, itu semua tidaklah seberapa dibandingkan apa yang harus kami kerjakan di ujung pengabdian kami. Karena tugas berat memang selalu menunggu kami diujung perjalanan kami: Mengurus perpulangan anggota konsulat ke rumah masing-masing sebelum liburan.


Setelah permusyawarahan panjang, akhirnya dipastikan bahwa konsulat Riau yang akan pulang bersama adalah 20 orang (Dari 150 orang hanya 20 orang yang ikut?? mengejutkan bukan??). Hal ini disebabkan dari 150 orang santri tidak semuanya berdekatan dengan Riau. Ada yang lebih dekat dengan Medan, Aceh, ataupun Padang. Maka saya dan teman saya, RENALDI mulai petualangan untuk mencari sarana dan prasarana perpulangan.

Jumat, 10 Februari 2012

Mu-C0

Sepuluh orang, Siro, Zulfian, Renjana, Chumed, Arif, Agung, Fairuz, Iqbal, Fajar, Zulfikar. Kami ditunjuk oleh beliau yang terhormat, bapak wakil pengasuh pondok untuk menjadi panitia ujian pertengahan tahun, kepanitiaan terbesar untuk kelas asatidz.

Kenapa dikatakan besar? tentu saja karena kami memegang amanat yang sangat besar. Proses belajar mengajar selama satu semester diujikan saat ini. Dan penanggungjawab kesukesesan itu adalah kami, sepuluh orang "yang dipilih" ini.

Pertama kali diangkat, seharusnya kami segera memikirkan masalah anggaran dan program kerja kedepan, tapi bagi kami, hal pertama yang harus dipikirkan adalah, "nama panitia tahun ini apa ya?". Sempat muncul nama "Panutan"(panitia ujian awal tahun), "Lautan"(lajnah(panitia) awal tahun), tapi ntah kenapa semua nama tersebut tidak sreg di hati kami. Sampai di suatu hari yang cerah, "Kita kan Mu-C0 men!", kata Renjana. "apa tuh Mu-C0?", sambung yang lain. "Mukim Community!", jawabnya cepat dengan gaya Onizuka di GTO (setiap panitia ujian diwajibkan untuk bermukim di pondok ketika liburan demi menyelesaikan dokumentasi dan embel-embelnya). Dan resmilah nama kami, Mu-C0 (penulisan tidak boleh salah).

Selasa, 25 Oktober 2011

FISH-EYE

Kamis, 13 Oktober 2011
RSI Fathimah, 09.40,


“Coba posisinya tengkurap”
“Begini dok?”
“Satu badan tengkurap, santai aja”
“Kalo sambil smsan gimana dok?”
“Gapapa malah bagus supaya ga kerasa”
“…”
Ini Rumah Sakit serius apa ngga sih??

“Ini biusnya agak sakit, jadi ditahan ya”
“Iya dok… Auw!”
“Gimana rasanya? Agak tebal kan kulitnya?”
“I… iya dok”

Sabtu, 15 Oktober 2011

Untuk Sahabat-Sahabatku

catatan ini pernah dimuat di faceboook, hari minggu, 16 Oktober 2011...


Sahabatku yang aneh-aneh,
Sebagai manusia, kita tak pernah mampu untuk hidup sendiri. Kita adalah makhluk sosial, itulah yang sering kita baca dalam pelajaran PPKn dan Tarbiah dulu. Sekuat apapun seseorang, sekaya apapun seseorang, ia tak kan mampu hidup sendiri. Selayaknya kita sebagai manusia saling tolong-menolong dalam kebaikan, walaupun dulu kita sering tolong-menolong dalam kejahatan jugaJ. Maka, kita perlu sahabat. Sahabat yang menghiasi hari kita, mewarnai senyum kita, melukiskan dalam hati kita kenangan yang akan menjadi kisah klasik pengatar tidur anak cucu kita kelak. Dan tak dapat diragukan, aku sudah menemukannya, sahabat. Kamu adalah sahabatku.

Sahabatku yang nakal-nakal,
Kalau aku menilik sekilas ke belakangku, sekilas melirik ke lampauku, niscaya aku tak mampu meniliknya ataupun sekedar meliriknya. Karena setiap kali hal ini kulakukan, aku harus memutar kembali badanku seutuhnya kembali ke masa dulu, masa-masa indah saat kita bersama. Terlalu banyak memori yang terekam dalam hati yang hanya seberat 2 kg ini. Tak jarang, kedua mataku sembab mengenang masa-masa jaya kita dulu.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Elegi Seorang Pengajar (2-Part 2)

Setelah mengetahui kalau si Kumbang merokok, saya berniat memancingnya supaya mengaku sendiri pada saya. Supaya lebih ikhlas tentunya.


Esoknya saya masuk kelas dengan muka santai, “Gimana pengecekan lemari kemarin? Ada yang terambil kaosnya, HPnya, laptopnya, atau kulkasnya mungkin?”, tanya saya sambil bercanda yang langsung disambut dengan keributan saling lempar-melempar ejekan ke temannya. “Ade ketahuan laptop ustadz”, kata yang satu. “Ngga ustadz, Julian yang bawa kulkas”, balasnya yang langsung disambung dengan koor tertawaan dari teman sekelas yang lain. “Sudah”, saya menengahi, “Ustadz dapat laporan dari beberapa orang ustadz, bahwa diantara antum ada yang ketahuan punya HP, rokok, kamera, dan alat elektronik lain”, sambung saya dengan wajah serius(sebenarnya laporan yang saya dapat hanya rokok, tapi untuk memancing saya sebutkan saja beberapa alat elektronik). “Isma’uu, dengarkan. Jadi sebelum ustadz bongkar, yang kemarin merasa ketahuan, silahkan antum mengaku ke ustadz sebelum besok. Ustadz tunggu di kamar ustadz. Kalau ngga mengaku, berarti siap untuk ustadz permasalahkan”, ancam saya. Satu kelas pun sunyi tanpa suara mendengar ancama saya.

Kamis, 06 Oktober 2011

Elegi Seorang Pengajar (2-Part 1)


 Al-Waladu Sirru Abihi. Seorang anak adalah rahasia dari ayahnya. Kalau anda menemukan seorang anak nakal, sering melawan, maka yakinlah bahwa ayahnya dulunya seperti itu. Rahasia sang ayah itulah yang menjadi wujud sang anak. Maka hati-hatilah bagi anda, sang calon ayah. Karena setiap rahasia yang anda sembunyikan akan terwujud pada sang anak.


***


Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sebagai wali kelas, saya memiliki “anak-anak” sebanyak 32 orang. Diantara mereka ada yang kelihatannya baik, ada yang kelihatannya nakal, ada yang kelihatannya pintar, ada juga yang kelihatannya kurang.

Kamis, 22 September 2011

Elegi Seorang Pengajar (1)


“Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan mengajar”
KH. Imam Zarkasy

Menjadi pengajar merupakan suatu pekerjaan yang mulia. Tugas seorang guru menyerupai tugas seorang nabi, menyampaikan yang haq, meng-islah yang batil, menerangi kegelapan dengan nuur ilmu.

Menjadi pengajar bukan sebuah profesi, tapi sebuah panggilan, amal dan investasi. Seorang pengajar yang besar bukanlah seorang pengajar yang sehari-harinya mengajar di sekolah-sekolah elit. Seorang pengajar yang besar adalah seorang pengajar yang mau menghabiskan waktunya mengajar di sebuah surau kecil di tengah hutan belantara dengan ikhlas.

Berbahagialah anda wahai pengajar!

Tapi, mengajar butuh perjuangan, pengorbanan, dan usaha tentunya.

Itulah sang pengajar, semoga saya termasuk salah seorang diantara mereka. Amin.

Rabu, 31 Agustus 2011

Lebaran tanpa Ketupat


Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...
La Ilaha Illallahu Wallahu Akbar...
Allahu Akbar... Walillahilhamdu...

Tak terasa, bulan Ramadhan sudah pergi meninggalkan Tanjungpinang pada tanggal 31 Agustus 2011. Syawal pun tiba dengan hangatnya. Akhirnya lebaran di rumah. Ada ketupat, ada acara sakral: sungkeman, ada air kaleng, ada saudara-saudara yang tak henti-hentinya pulang pergi sambil maaf-maafan.

Mungkin kedengarannya berlebihan, kan cuma lebaran. Ya, tapi masalahnya lebaran tahun lalu saya di pondok.

Setahun yang lalu...