Jumat, 27 Juli 2012

Agen Kejahatan (part-2)


Setelah menghabiskan satu minggu di Malaysia dengan penuh kekhawatiran, saya kembali lagi ke bumi pondok tercinta Darul Muttaqien hari Kamis, tanggal 19 Juli melalu penerbangan Kuala Lumpur - Bali yang langsung dilanjutkan nyebrang ke tanah Jawa. Saya sampai di ponitudok jam 2 malam dengan badan remuk dan perasaan was-was.

Sebelumnya saya sempat diceritakan duduk permaslahannya oleh teman saya, Renaldi melalu telepon. Tiket kami tidak ada. Dan ketika dikonfirmasi ke pihak agen, kami dituduh belum melunasi pembayaran sembari menunjukkan surat pernyataan bermaterai yang sempat kami tanda tangani dengan buru-buru sebelum kami berangkat. Intinya, kami ditipu. Shit!

Kamis, 26 Juli 2012

Lupa, Lupalupalupa~


Manusia, sebenarnya berasal dari bahasa arab yang berarti man nasiya (yang lupa).

Hakikatnya, manusia adalah makhluk yang sering lupa atu lalai. Lupa janji, lupa kerjaan, lupa tugas, bahkan lupa mandi *hayo siapa ini?*.  Dalam masalah duniawi, lupa bisa berakibat fatal, hilangnya pekerjaan, kesempatan, bahkan rezeki.


Dalam masalah ibadah, orang yang lupa tidak bisa ditimpakan atasnya hukuman. Tapi ini, tentu saja dengan menilik sisi-sisi dari lupa tersebut, apakah lupa itu benar-benar lupa, atau "dilupa-lupakan". Hal ini berdasarkan hadi Rasulullah SAW:

Selasa, 24 Juli 2012

Potret Kelam Seorang Idola


Nazriel Irham a.k.a Ariel. Siapa yang tidak kenal? Vokalis dari band asal Bandung, Peterpan ini meroket namanya dengan album Bintang di Surga. Tak ada yang tak kenal dengan Ariel. Bahkan hingga saat ini, lagu Ada Apa Denganmu masih dinikmati oleh banyak kalangan. Suara yang khas, tampang yang masuk kategori "ganteng", popularitas yang tak tertandingi, membuatnya menjadi idola seluruh umat, terutama kaum hawa. Seluruhnya terkemas begitu sempurna hingga akhirnya terkuak video porno yang direkam oleh Ariel bersama rekan-rekan artis lain pada tahun 2010. Yang terendus (emangnya tulang diendus) memang hanya dua orang, tapi yang tidak terendus bisa jadi lebih banyak dua kali lipat.

Hukum akhirnya berbicara, memutuskan bahwa Ariel harus dihukum penjara selama 2 tahun. Ribuan lidah protes, jutaan mata menangis, milyaran manusia menolak kenyataan. Tapi palu telah berayun, Ariel pun masuk penjara.

Sahabat

Kalau aku memang sahabatmu...
Kenapa tak kamu izinkan aku membantumu?
Atau setidaknya mengurangi bebanmu?
Takutkah kamu apabila kisah kita terulang kembali?


Senin, 23 Juli 2012

Agen Kejahatan (part-1)

Kisah ini bermula 2 bulan yang lalu, dimana saat itu saya dan teman saya selaku pembimbing Konsulat Riau (organisasi untuk santri-santri yang berasal dari daerah Riau dan sekitarnya) mulai befikir untuk mengurus perpulangan konsulat ini. Sudah menjadi kewajiban kami sebagai guru, untuk menjadi pembimbing konsulat *cie...*. Mungkin kedengarannya keren, pembimbing, tapi pekerjaannya berbanding lurus dengan kebesaran namanya.

Menjadi pembimbing konsulat berarti kami harus siap untuk membimbing, mengurus, mengatur, konsulat ini. Asal anda tau saja, konsulat ini isinya 150 orang! Bahkan kalau di pondok pusat, jumlahnya bisa meledak sampai 300 orang! WOW! Kami harus mau mendengar, mengomentari, mengambil keputusan, bahkan memarahi anggota konsulat yang bersalah. Tapi, itu semua tidaklah seberapa dibandingkan apa yang harus kami kerjakan di ujung pengabdian kami. Karena tugas berat memang selalu menunggu kami diujung perjalanan kami: Mengurus perpulangan anggota konsulat ke rumah masing-masing sebelum liburan.


Setelah permusyawarahan panjang, akhirnya dipastikan bahwa konsulat Riau yang akan pulang bersama adalah 20 orang (Dari 150 orang hanya 20 orang yang ikut?? mengejutkan bukan??). Hal ini disebabkan dari 150 orang santri tidak semuanya berdekatan dengan Riau. Ada yang lebih dekat dengan Medan, Aceh, ataupun Padang. Maka saya dan teman saya, RENALDI mulai petualangan untuk mencari sarana dan prasarana perpulangan.

Jumat, 10 Februari 2012

Mu-C0

Sepuluh orang, Siro, Zulfian, Renjana, Chumed, Arif, Agung, Fairuz, Iqbal, Fajar, Zulfikar. Kami ditunjuk oleh beliau yang terhormat, bapak wakil pengasuh pondok untuk menjadi panitia ujian pertengahan tahun, kepanitiaan terbesar untuk kelas asatidz.

Kenapa dikatakan besar? tentu saja karena kami memegang amanat yang sangat besar. Proses belajar mengajar selama satu semester diujikan saat ini. Dan penanggungjawab kesukesesan itu adalah kami, sepuluh orang "yang dipilih" ini.

Pertama kali diangkat, seharusnya kami segera memikirkan masalah anggaran dan program kerja kedepan, tapi bagi kami, hal pertama yang harus dipikirkan adalah, "nama panitia tahun ini apa ya?". Sempat muncul nama "Panutan"(panitia ujian awal tahun), "Lautan"(lajnah(panitia) awal tahun), tapi ntah kenapa semua nama tersebut tidak sreg di hati kami. Sampai di suatu hari yang cerah, "Kita kan Mu-C0 men!", kata Renjana. "apa tuh Mu-C0?", sambung yang lain. "Mukim Community!", jawabnya cepat dengan gaya Onizuka di GTO (setiap panitia ujian diwajibkan untuk bermukim di pondok ketika liburan demi menyelesaikan dokumentasi dan embel-embelnya). Dan resmilah nama kami, Mu-C0 (penulisan tidak boleh salah).

Rabu, 18 Januari 2012

Mengharap Kemilau Rembulan di Terik Mentari, Menanti Terik Mentari di Kemilau Rembulan...

Seorang anak TK, suatu hari ia melihat anak-anak SD yang sedang bermain bola beramai-ramai. Ia berfikir, "Enak ya jadi anak SD, punya temen banyak". Tibalah hari ia menjadi anak SD, kali ini ia melhat anak-anak SMP yang sedang mengendarai motor. Ia berfikir, "Enak ya jadi anak SMP, bisa bawa motor". 6 tahun berlalu, ia pun sudah menduduki bangku SMP. Ia melihat seorang remaja SMA sedang berjalan berduaan dengan pasangannya di taman, Ia berfikir, "Enak ya jadi anak SMA, bisa berdua-duaan gitu". Waktu berlalu, ia pun resmi mengenakan pakaian putih abu-abu. Apa yang dilihatnya kali ini? Ia melihat mahasiswa kuliahan yang baru pulang karena sedang libur. Ia berfikir, "Enak ya jadi mahasiswa, bisa hidup sendiri". Tibalah hari ia menjadi mahasiswa, ngekos, sendiri, jauh dari keluarga. Merupakan awal yang menyenangkan baginya merasakan kehidupan yang jauh berbeda dengan hidupnya dulu. Bebas, dan tanpa tekanan. Sebulan, dua bulan... hingga genap setahun ia hidup jauh dari orangtuanya. Ia mulai merindukan masa-masa kecilnya dulu, ketika ia TK, segala sesuatu yang dibutuhkannya tinggal minta. Keluarga selalu ada di sisinya. Mengingat wajah ayah dan ibunya, perlahan membuatnya sesak. Ia pun menitikkan air mata, kemudian ia berfikir, "Enak ya jadi anak TK, tapi sayang, tak mungkin kuputar waktu kembali".